Gempur Lulus Ujian!
Ini kabar gembira buat kami semua, dan tentunya untuk kawan-kawan yang selama ini aktif membantu Coin A Chance! sebagai Coiners maupun Coin Droppers. Gempur–anak pertama yang menerima bantuan dari Coin A Chance!, akhirnya lulus ujian SD dengan NEM 25! Ibunya Gempur langsung menelepon, khusus untuk mengabarkan hal ini, tertawa-tawa senang bercampur haru.
Gempur pernah berkata kepada kami bahwa ia ingin masuk SMPN 2 Pamulang (Dolang). Untuk masuk SMP Negeri ini, NEM yang disyaratkan minimum adalah 22. Dan Gempur lulus dengan NEM 25! Lebih dari cukup untuk masuk SMPN Dolang!!!
Gempur sudah membuktikan kepada kita semua, bahwa dengan koin-koin yang kita kumpulkan untuk biaya sekolahnya, ia sudah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk kemudian lulus ujian dengan nilai yang memuaskan!
Terima kasih untuk kawan-kawan semua, ya! Koin-koin kalian turut memotivasi Gempur untuk terus belajar. Kelulusannya adalah tanda terima kasih Gempur untuk kawan-kawan semua.
Gempur, selamat, ya! Kamu bikin kami semua bangga!
Kompetisi Foto Bawah Laut
Pagi ini, saya teringat percakapan saya dengan Nila Tanzil. Perempuan berambut jigrak yang mencintai pantai dan gemar menyelam itu pernah berkisah kepada saya, di dalam taksi. Kisah ini berhubungan dengan ekspedisi penyelamannya dengan sebuah rombongan beberapa waktu lalu.
Alkisah, di atas kapal di tengah laut, salah satu anggota rombongan penyelam menyantap pisang. Lantas dengan santainya, kulit pisang yang tadi disantapnya ia lemparkan ke laut.
Nila yang melihat kejadian itu sempat berang. “Gimana, sih! Kok dibuang ke laut!”
“Nggak apa-apa, dong! Ini kan sampah organik! Jadi nggak masalah kalau dibuang ke laut!” jawab sang teman tanpa merasa bersalah.
Di dalam taksi, Nila mengatakan kepada saya betapa kesalnya ia. Memang, kulit pisang adalah sampah organik. Tetapi bayangkan, apakah para penyelam sudi jika di kedalaman yang mereka lihat adalah kulit pisang, kulit jeruk, dan sampah-sampah organik lainnya?
“Banyak penyelam yang nggak bertanggung jawab dan egois,” kata Nila dengan nada cepat dan pendek-pendek. “Ada juga fotografer yang seenaknya mindahin ikan! Ikannya dipegang terus dihadapkan ke kamera dia! Keterlaluan banget! Atau dikorek-korek tempat persembunyiannya supaya ikannya keluar. Cuma biar bisa dapat potret yang bagus! Padahal fotografer yang bener harusnya nunggu berhari-hari sampai ikannya keluar sendiri. Kalau nggak keluar juga, besoknya mereka menyelam lagi! Itu yang bener! Kan kasihan ikannya diganggu begitu!”
Kekesalan Nila memang beralasan. Terlebih lagi (meski tanpa bermaksud menggeneralisasi), kebanyakan penyelam kurang bertanggung jawab yang ia temui berasal dari Indonesia. Kekesalan bertambah karena mereka menyelam di perairan Indonesia. “Milik sendiri kok nggak dijaga,” ujar Nila cemberut.
Hari ini saya mendapat kabar mengenai kompetisi foto bawah laut. Kompetisi ini digelar US Embassy di Jakarta, berjudul National Underwater Photography Competition “OCEAN IN FOCUS”. Selain mendapatkan hadiah kamera digital Canon, Coca-Cola juga menambah hadiah pemenang dengan perjalanan menyelam gratis ke Bunaken.
Saya langsung teringat Nila. Saya tahu ia punya banyak koleksi foto-foto cantik dari ekspedisi-ekspedisi menyelamnya. Saya tahu, foto-foto bawah laut milik Nila diambil dengan beradab. Wajah Chic juga sempat terbayang–mengingat ibu keren ini juga hobi menyelam. Sayangnya, saya baru tahu bahwa hari ini ternyata hari terakhir pendaftaran untuk kompetisi itu!
___________
Foto dipinjam dari Unspun.
Sebuah Ketika.
Lebih dari segalanya, waktu. Hanya waktu.
Dan kita memang sudah sejak dulu. Kamu tahu. Menikmati setiap jeda, setiap jenak, setiap lalu kala menunggu. Sebaris senyap dalam kata-kata yang tergugu. Tidak terburu. Tidak jemu-jemu meski yang kita lakukan tidaklah lebih hebat dari sekadar menunggui sebatang rokok bertransformasi menjadi abu. Kita mungkin terikat dalam erat yang terlalu. Begitukah menurutmu?
Bukan cinta. Atau kecupan lewat kala senja. Tapi waktu.
Semakin singkat. Ingatan fotografis semakin tak bisa diandalkan ketika jejak-jejak mulai berkarat. Dan kamu tahu karat itu hama seperti binatang pengerat. Saya tidak lagi ingin kamu dalam satu kerat. Tidak cukup kuat. Imajimu tidak bisa menjelma nyata hanya dalam nyala lampu 25 watt. Dan waktu tersaruk-saruk di belakang kita dengan langkah-langkah berat.
Hanya waktu. Apakah aku meminta terlalu banyak?
[Tidak, kamu meminta terlalu sedikit. Kecanduan akan waktu ini seperti penyakit, sementara rentang hidup semakin sempit.]
Bisakah kita melahap bintang-bintang dengan mata saja? Pada sebuah ketika di mana akhirnya langit kita berbagi warna serupa. Ketika jendela tak perlu menjelma perantara untuk mengantarkan bingkisan kata-kata. Kedipan bulu mata adalah nyata. Setiap geraknya. Setiap helainya. Tanpa sela. Tanpa cela.
Sempurna.
Ini tak akan bertahan selamanya.
Aku tahu.
Cuma sementara.
Aku tahu.
Jika begitu, mengapa masih kau katakan sempurna?
Karena aku tidak meminta selalu.
Aku cuma minta secukupnya waktu.
Hanya waktu.
Untuk mencintaimu.
The Wrist Band is Here! :)
Akhirnya, setelah dipesan beberapa minggu yang lalu (thanks to several Coiners for their donation), wrist band Coin A Chance! diantarkan! Uuh, masih dalam kardus yang dipaketkan, dalam lindungan plastik-plastik bening, fresh from the oven!



UPDATE—June 17, 2009: Hari ini baru menyadari bahwa film dokumenter mengenai Coin A Chance! produksi Refleksi DAAI TV (berjudul: “Koin-Koin Kesempatan”) sudah diunggah ke Facebook Group Coin A Chance! oleh Mas Ari Trismana. Terima kasih banyak!
Videonya bisa dilihat di Facebook Group Coin A Chance! dengan meng-klik gambar di bawah ini:
The End of The Affair
Yang dirusak bukan cuma hati yang dikhianati atau hubungan percintaan di antara pihak-pihak yang terlibat secara langsung. Dan sesungguhnya, ini lebih jauh dari sekadar masalah sakit hati.
Perselingkuhan meninggalkan bekas yang lama hilang. Semacam trauma yang menyebalkan dan sebenarnya tak layak ada. Tiba-tiba saja, ada perasaan rendah diri. Perasaan tidak layak untuk dicintai. Ada keraguan dan kehati-hatian yang berlebih agar tidak disakiti lagi. Kecurigaan yang berlebihan ketika seseorang yang mengaku lajang mendadak berbaik hati mengajak keluar untuk sekadar makan malam atau jalan-jalan.
Trust is something you earn.
Kepercayaan tidak tercipta dalam semalam. Dan bukan juga sesuatu yang kekal. Satu kali perselingkuhan bisa membuat kepercayaan terhadap seseorang menjadi sangat rapuh. Dua kali perselingkuhan membuat semuanya runtuh.
Dan jangan salah, permintaan maaf tidak bisa mengembalikan kepercayaan yang sudah runtuh dalam semalam. Butuh waktu lebih lama untuk merekonstruksi semua; dan tetap saja, tak peduli seberapa kerasnya seseorang mencoba, segalanya tak akan pernah lagi persis sama.
Tak pernah ada manusia yang ingin hidup dengan dibayang-bayangi kenangan buruk. Maka, sebagian dari mereka (yang cukup berani), memutuskan untuk mengambil pelajaran yang dibutuhkan, melangkah pergi, dan meninggalkan sisa-sisa kenangan buruk beserta semua hal yang terhubung dengannya di belakang. Ya, jauuuh di belakang… dan mereka pun menyeberangi jembatan itu tanpa pernah menoleh lagi; kemudian membakar jembatan itu sekalian.
Blogger di Balik Jeruji Besi
Ini akan menjadi postingan yang relatif pendek, karena sudah ada begitu banyak orang yang bicara mengenai kasus tak menyenangkan yang menimpa Prita Mulyasari. Saya sendiri tak mengenal sosok Prita secara pribadi, namun sempat merasa miris (dan marah) mengetahui bahwa perempuan ini harus mendekam di balik jeruji besi hanya karena ia menuliskan komplain atas pelayanan sebuah rumah sakit (RS Omni Internasional) di salah satu milis.
Dari sudut pandang saya sendiri, yang awam masalah hukum, kasus Prita merupakan salah kaprah penginterpretasian yang menyedihkan (dan memalukan) dari salah satu pasal dalam UU ITE; sebagaimana para selebritis dan politisi mulai kecanduan menggunakan pasal ‘pencemaran nama baik’ untuk merespon berbagai macam gesekan yang terjadi di antara mereka.
Awal minggu ini, komunitas online sendiri sudah mulai bereaksi dalam menyuarakan pendapat dan dukungan mereka terhadap Prita, baik melalui blog, Facebook, sampai Twitter.
Namun yang berkecamuk dalam benak saya adalah kenyataan berikut: belakangan ini para kandidat capres-cawapres sibuk menggalang simpati dari komunitas online, bahkan sempat-sempatnya menjadwalkan temu blogger segala. Dimulai dengan JK, lalu Prabowo, dan Boediono–ya, lengkap sudah. Semua kandidat sudah terwakili.
Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah kini salah satu dari mereka akan bereaksi dan angkat suara terhadap kasus Prita?*
Lantas teringatlah oleh saya: malam-malam, di sebuah kafe di bilangan Mahakam, Jakarta Selatan, salah seorang kandidat capres sempat berujar bahwa ia siap dan terbuka untuk dikritik oleh para blogger melalui media blog.
Seorang Prita mengkritik layanan sebuah rumah sakit, dan kini ia berada di balik jeruji besi.
Ada sesuatu yang sangat tidak benar di sini.
——–
*Prita memang bukan blogger, tetapi dia netters yang terjerat UU ITE. Dan sebagaimana diketahui, netters bisa menjadi sangat solid dalam keadaan seperti ini.
**Jadi teringat kasus yang sempat menimpa Herman Saksono.
Coffee-flavored Kisses.
Pagi hari menatah malam tadi dalam imaji yang tereduksi: hujan, 5 pitcher Heineken, lagu-lagu Mariah Carey, asap, kotak-kotak kosong Dunhill dan Marlboro Lights Menthol, antrian panjang di depan toilet yang cuma satu-satunya, pecahan gelas yang berantakan.
[Selamat pagi...]
Aroma yang kukenal baik. Kopi tubruk. Susu cair. Dan kamu.
Do you realize that you have this lovely peppermint smell I’m totally crazy about? So refreshing! What was that? An after-shave cream? A toothpaste?
Kamu menjengukkan kepala dari balik jendela; terang membuat pucuk kepalamu bercahaya, seperti malaikat. Ada mug besar berwarna hijau muda dalam genggamanmu. Kafein bercampur Chambord dan Baileys. Memabukkan hanya karena kamu yang menyajikannya untukku. Tetapi bukankah tiap kehadiranmu itu memang selalu memabukkan?
Kamu tersenyum. Mengapa kamu tersenyum? Did I say that out loud?
[Have your coffee first before it gets cold.]
Semuanya terasa hangat. Matahari. Senyum. Kopi. Pagi. Telapak tangan. Hati. Coffee-flavored kisses. Juga bingkisan kecil di atas meja: an all-access ticket to do whatever I want with you (and your heart). I couldn’t ask for more.
Tanda-tandanya
Sore ini, bersama seorang kawan, saya iseng-iseng membuka tulisan kawan saya (sutradara Romeo&Juliet itu) yang pernah tersimpan di sini.
Kawan saya sambil lalu membacakan judul-judul artikel yang terpajang di halaman itu, hingga kami berdua tertegun sebentar.
Dan saya berkata,”Kok judul-judul ini seperti petunjuk yang ditujukan untuk hidup saya?”
Judul-judul tersebut adalah:
- Mencari kebahagiaan
- Atas nama cinta
- Menjaga kesenangan
- Mimpi harus diraih
Apakah ini salah satu momen ‘kebetulan’ yang sebenarnya merupakan tanda-tanda bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang tengah mencoba bercakap dengan saya?
Happy weekends, all!
You.
The Day Sky, Hafiz (The Subject Tonight is Love)
Let us be like
Two falling stars in the day sky.
Let no one know of our sublime beauty
As we hold hands with God
And burn
Into a sacred existence that defies—
That surpasses
Every description of ecstasy
And love.









